| Iwan Fals menanam pohon di lingkungan pondok pesantren |
Saat ini, sebagai teladan dari wali songo tersebut, Ki Ageng Ganjur yang di pimpin oleh Dr. Al-zastrouw melakukan kegiatan dakwah yang serupa, yaitu berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya dengan perantara musik melalui event-event seperti perjalanan spiritual, konser religi, pentas ekstraligi jelang Ramadhan, pentas seni dan budaya Islam dll.
Cara dakwah musik ala Ki Ageng Ganjur ini juga menyertakan artis-artis dan selebriti papan atas Indonesia seperti SLANK, Iwan Fals, Evie Tamala, Fadli Padi, dan masih banyak yang lain. Hal ini dilakukan untuk sebuah target yaitu untuk lebih menarik simpati masyarakat terutama generasi muda yang selama ini belum pernah sama sekali tersentuh dakwah dan ajaran-ajaran Islam.
| Dialog tatap muka SLANK dengan santri pondok dan masarakat umum |
Kegiatan puncaknya adalah pentas religi. Dalam setiap pentasnya, Dr. Al-Saztrauw sebagai host akan memberikan ulasan-ulasan berkaitan dengan lagu yang ditampilkan dengan mendasarkan pada al-Qur'an, Hadits, Ijma', Qiyas dan sumber-sumber ajaran Islam lain (seperti teladan dari ulama-ulama tasawuf).
Sebagai contoh, lagu milik SLANK yang berjudul Balikin. Lagu ini merupakan cerita nyata para personel Slank yang dulu sempat kecanduan obat-obatan terlarang. Dalam hal ini Dr. Saztrauw menerangkan bahwa dalam al-Quran telah disebutkan haram hukumnya memakan sesuatu yang nilai kemudharatannya lebih banyak dari nilai manfaatnya, dan berdasar dalil sedikit atau banyak tapi memabukkan maka hukumnya haram.
Dengan cara seperti itu, penonton jadi lebih tahu dasar hukum haramnya obat-obatan terlarang, dan dengan tembangnya itu penonton jadi lebih mudah menerima dan tentunya juga terhibur.
Cara dakwah Ki Ageng Ganjur tersebut setidaknya memiliki nilai dan hikmah baik bagi penggemar, masyarakat umum atau ponpes itu:
1. Turut melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh idolanya yaitu, berdiskusi, menanam pohon dan sholat berjama'ah
2. Menambah wawasan pengetahuan Islam (Al-quran, hadits dll) dengan cara yang lebih menghibur. Penonton yang sebelumnya tidak tahu, jadi tahu, dan penonton yang sudah tahu akan menjadi lebih paham.
3. Semakin memberi nilai positif bagi pondok pesantren sebagai wadah dalam mencari ilmu yang lebih lengkap, karena ditunjang oleh ilmu agama dan juga ilmu umum
4. Menghilangkan asumsi negatif yang selama ini digembor-gemborkan bahwa Pondok pesantren adalah sarang teroris oleh pihak-pihak tertentu
5. Menghilangkan imej negatif terhadap artis atau band tersebut khsususnya bagi masyarakat umum yang selama ini memandang sebelah mata terhadap selebriti papan atas Indonesia itu akibat kekurangtahuannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar